Surabaya, Juli 2026 – Di dunia perkuliahan, ada dua istilah yang cukup sering terdengar di kalangan mahasiswa: mahasiswa kupu-kupu dan mahasiswa kura-kura. Mahasiswa kupu-kupu dikenal dengan kebiasaan “kuliah-pulang, kuliah-pulang”, sedangkan mahasiswa kura-kura sering diartikan sebagai “kuliah-rapat, kuliah-rapat”.
Dua istilah ini biasanya dipakai untuk menggambarkan gaya hidup mahasiswa selama menjalani perkuliahan. Ada yang setelah kelas langsung pulang ke rumah atau kost, ada juga yang setelah kelas masih lanjut rapat organisasi, jadi panitia kegiatan, ikut komunitas, atau aktif dalam berbagai agenda kampus.
Karena perbedaannya cukup terlihat, muncullah berbagai stereotip tentang keduanya. Mahasiswa kupu-kupu sering dianggap pasif, kurang bersosialisasi, dan tidak tertarik dengan kehidupan kampus. Padahal, tidak semua mahasiswa yang langsung pulang setelah kuliah berarti tidak produktif. Bisa jadi mereka sedang fokus mengejar nilai akademik, mengikuti kursus di luar kampus, bekerja part-time, magang, freelance, membantu keluarga, atau sekadar menjaga energi agar tetap seimbang.
Menjadi mahasiswa kupu-kupu bukan berarti tidak berkembang. Banyak mahasiswa yang justru berkembang dengan cara yang lebih personal dan terarah. Mereka mungkin tidak sering terlihat di kegiatan kampus, tetapi tetap aktif membangun kemampuan melalui belajar mandiri, membuat portofolio, mengikuti lomba, mengembangkan skill digital, atau merencanakan karier sejak dini.
Di sisi lain, mahasiswa kura-kura sering dianggap sebagai mahasiswa yang paling aktif dan punya banyak relasi. Mereka biasanya mudah dikenali karena hampir selalu terlibat dalam berbagai kegiatan kampus. Mulai dari rapat organisasi, menjadi panitia acara, mengurus program kerja, hingga ikut menyukseskan kegiatan besar di lingkungan kampus.
Namun, menjadi mahasiswa kura-kura juga tidak selalu semudah kelihatannya. Di balik kesibukan dan banyaknya pengalaman, mereka juga harus pintar membagi waktu antara kuliah, tugas, organisasi, kehidupan pribadi, dan istirahat. Tidak jarang, mahasiswa yang aktif organisasi harus menghadapi jadwal yang padat, deadline yang bertumpuk, serta notifikasi grup yang seolah tidak pernah berhenti.
Menariknya, kedua tipe mahasiswa ini sering saling melihat kehidupan satu sama lain sebagai sesuatu yang lebih enak. Mahasiswa kura-kura mungkin iri melihat mahasiswa kupu-kupu yang bisa pulang lebih cepat, punya waktu istirahat lebih banyak, dan terlihat lebih tenang. Sebaliknya, mahasiswa kupu-kupu juga bisa saja kagum melihat mahasiswa kura-kura yang punya banyak teman, pengalaman organisasi, dan kesempatan memperluas jaringan.
Padahal, tidak ada satu tipe mahasiswa yang benar-benar lebih unggul dari yang lain. Setiap mahasiswa punya cara masing-masing untuk bertumbuh. Ada yang menemukan potensinya melalui organisasi, ada yang berkembang lewat akademik, ada yang fokus membangun portofolio, ada yang aktif mengikuti lomba, ada juga yang memilih mencari pengalaman melalui magang atau pekerjaan sampingan.
Yang paling penting bukanlah apakah kamu termasuk mahasiswa kupu-kupu atau kura-kura, melainkan apakah kamu benar-benar memanfaatkan masa kuliahmu dengan baik. Masa kuliah adalah waktu yang berharga untuk mengenal diri sendiri, mencoba hal baru, membangun kemampuan, memperluas relasi, dan mempersiapkan masa depan.
Kalau kamu lebih nyaman menjadi mahasiswa kupu-kupu, pastikan waktu di luar kelas tetap digunakan untuk hal yang produktif. Jangan sampai pulang lebih cepat hanya berakhir dengan rebahan tanpa arah setiap hari. Gunakan waktu itu untuk belajar, mengembangkan skill, membuat karya, ikut pelatihan, atau mengeksplorasi minat yang bisa mendukung masa depanmu.
Kalau kamu lebih cocok menjadi mahasiswa kura-kura, pastikan juga kamu tetap menjaga keseimbangan. Aktif di organisasi memang bagus, tetapi jangan sampai tugas kuliah, kesehatan, dan waktu istirahat jadi terabaikan. Pengalaman organisasi akan jauh lebih bermanfaat kalau diimbangi dengan manajemen waktu yang baik.
Pada akhirnya, kehidupan mahasiswa bukan tentang harus memilih satu label tertentu. Kamu tidak harus sepenuhnya menjadi kupu-kupu, dan tidak wajib juga menjadi kura-kura. Kamu bisa menjadi mahasiswa yang fokus akademik, aktif organisasi, produktif di luar kampus, atau menggabungkan semuanya sesuai kemampuan dan tujuanmu.
Mau menjadi mahasiswa kupu-kupu, kura-kura, atau kombinasi keduanya, semuanya tetap valid. Selama kamu terus berkembang, bertanggung jawab, dan tahu arah yang ingin dicapai, maka cara kamu menjalani masa kuliah tetap berharga.
Jadi, daripada sibuk membandingkan diri dengan gaya hidup mahasiswa lain, lebih baik tanyakan pada diri sendiri: “Selama kuliah ini, aku sedang bertumbuh ke arah yang lebih baik atau tidak?”
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa sering kamu terlihat sibuk di kampus, tetapi seberapa jauh kamu berkembang selama menjadi mahasiswa.
Penulis: Zhifa / Editor: Fujiyama / Gambar: Dokumentasi Public Relations