Surabaya, April 2026 – Pertanyaan “bangun bisnis dulu atau investasi dulu?” kadang menjadi dilema bagi generasi muda terkhususnya para mahasiswa yang melek akan investasi, dan baru memasuki dunia keuangan. Namun dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh program studi Bisnis Digital Telkom University Surabaya bersama PT Indo Premier Sekuritas, para narasumber sepakat bahwa investasi sekarang bukan lagi hal yang “nanti-nanti aja”, tapi sudah jadi kebutuhan sejak dini. Bahkan, mahasiswa pun bisa mulai dari nominal kecil seperti uang saku atau THR.
Dalam sesi diskusi tersebut, salah satu peserta, Conan Caraka (Bisdig 2024), mengangkat pertanyaan yang cukup relevan di kalangan pemula, yaitu “Bagaimana cara membedakan investasi yang legal dan yang berpotensi penipuan”. Menanggapi hal ini, Akmal Fauzan selaku narasumber menekankan bahwa calon investor harus memiliki sikap kritis dalam menganalisis setiap peluang investasi.
“Kita harus cukup kritis dalam menganalisis. Bisa kita crosscheck menggunakan AI, tapi tetap harus melalui verifikasi ulang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa calon investor perlu memastikan platform yang digunakan telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan serta memiliki sistem yang transparan. Menurutnya, kemudahan akses informasi di era digital harus dibarengi dengan kemampuan memilah dan memverifikasi, agar tidak terjebak pada tawaran yang terlihat menguntungkan tetapi sebenarnya berisiko.
Pengalaman inspiratif juga dibagikan oleh Araya Suryanto, yang memulai perjalanan investasinya sejak tahun 2020. Ia mengawali langkah dari instrumen reksa dana dengan memanfaatkan uang saku dan THR. Pada masa awal, ia bahkan masih menggunakan rekening orang tua untuk bertransaksi. Meski terlihat sederhana, langkah kecil tersebut menjadi awal dari proses belajar yang berharga.
Araya mengakui bahwa perjalanannya tidak selalu mulus. Di tahap awal, ia sempat melakukan kesalahan dengan membeli saham gorengan. Namun, pengalaman itu justru menjadi pelajaran penting yang membentuk pemahamannya tentang risiko, pentingnya literasi, dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan finansial. Dari proses tersebut, ia mulai belajar secara bertahap hingga semakin memahami pola pergerakan pasar dan karakter berbagai instrumen investasi.
Dalam sesi diskusi, pertanyaan mengenai trading sebagai pilihan karier juga turut dibahas. Menanggapi hal ini, Araya menjelaskan bahwa trading memang dapat menjadi salah satu opsi profesi, tetapi bukan sesuatu yang cocok untuk semua orang. Menurutnya, dunia trading menuntut kemampuan analisis yang kuat, manajemen risiko yang disiplin, serta kesiapan mental dalam menghadapi fluktuasi harga yang cepat dan tidak menentu.
Sebagai penutup, para narasumber mengingatkan bahwa fokus utama mahasiswa saat mulai berinvestasi atau mempelajari trading seharusnya bukan pada keuntungan instan, melainkan pada proses belajar, pemahaman, dan pembentukan kebiasaan finansial yang sehat, “Kalau mulai, jangan langsung cari gimana cara cari cuan cepat,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membangun masa depan finansial bukan soal hasil yang serba cepat, melainkan tentang konsistensi dalam belajar, keberanian untuk memulai dari kecil, dan kesiapan untuk terus berkembang. Baik melalui bisnis maupun investasi, mahasiswa sejatinya sudah bisa mulai mengambil langkah sejak dini, selama dilakukan dengan pengetahuan yang cukup dan sikap yang bijak.
Di era digital saat ini, peluang untuk mengenal dunia bisnis dan investasi terbuka semakin luas. Karena itu, mahasiswa tidak perlu lagi melihat keduanya sebagai pilihan yang harus saling menggantikan. Sebaliknya, bisnis dan investasi dapat menjadi dua langkah yang sama-sama penting dalam membangun kemandirian finansial sejak masa kuliah.
Penulis: Nazhifa Azarine / Editor: Fujiyama | Foto: Dokumentasi Public Relations