Surabaya, April 2026 – Kalau kamu masih berpikir Kartini cuma soal kebaya dan sanggul setiap 21 April, mungkin kita memang perlu melihatnya sedikit lebih dalam.
R.A. Kartini hidup di masa ketika perempuan hampir tidak memiliki pilihan. Akses pendidikan begitu terbatas, ruang untuk bersuara sangat sempit, dan menentukan jalan hidup sendiri bukan sesuatu yang dianggap wajar. Namun di tengah segala keterbatasan itu, Kartini memilih untuk berpikir, menulis, dan menyuarakan kegelisahannya. Melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, Kartini menunjukkan bahwa perubahan sering kali dimulai dari keberanian untuk menyampaikan apa yang dirasakan dan diyakini, bahkan ketika dunia belum tentu siap mendengarnya.
Hari Kartini karena itu bukan sekadar peringatan terhadap sosok perempuan dalam sejarah, melainkan pengingat bahwa pendidikan, keberanian, dan kesempatan untuk berkembang adalah hal yang sangat berharga. Semangat Kartini hidup dalam gagasan bahwa setiap perempuan berhak belajar, berpendapat, berkarya, dan menentukan masa depannya sendiri. Nilai itulah yang membuat Hari Kartini tetap relevan hingga hari ini, termasuk bagi generasi muda di tengah dunia yang terus bergerak cepat.
Lebih dari seratus tahun kemudian, kita memang berada di titik yang sangat berbeda. Kita duduk di bangku kuliah, membuka laptop, berdiskusi di kelas, mengikuti organisasi, mengembangkan ide, dan berani menyampaikan gagasan di ruang publik. Hal-hal yang dulu mungkin bahkan tidak sempat dibayangkan oleh perempuan seusia Kartini. Namun, bukan berarti perjuangan itu telah selesai.
Sampai hari ini, masih ada momen ketika suara kita ragu untuk keluar. Masih ada situasi ketika seseorang merasa harus menahan diri agar tidak dianggap terlalu menonjol. Masih ada juga keraguan dari dalam diri sendiri yang datang diam-diam dan bertanya, “apa aku benar-benar bisa?” Dalam titik-titik seperti itulah semangat Kartini terasa paling dekat, bukan dalam seremoni semata, tetapi dalam keberanian kecil yang terus kita latih setiap hari.
Sebagai mahasiswa Telkom University Kampus Surabaya, semangat Kartini dapat dimaknai sebagai dorongan untuk terus bertumbuh dan mengambil peran. Menjadi mahasiswa hari ini bukan hanya tentang hadir di kelas dan menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang membangun keberanian untuk berpikir kritis, berkolaborasi, menciptakan inovasi, dan memberi dampak bagi lingkungan sekitar. Di kampus, setiap mahasiswa memiliki ruang untuk belajar menjadi pribadi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga berani menyampaikan ide dan menghadirkan perubahan.
Di Telkom University Kampus Surabaya, proses belajar juga tidak berhenti pada teori. Kampus menjadi ruang untuk mencoba, gagal, belajar lagi, lalu bangkit dengan cara yang lebih kuat. Dalam organisasi, kepanitiaan, kompetisi, proyek, hingga diskusi sehari-hari, mahasiswa diajak untuk mengenali potensinya dan berani melangkah. Di sinilah nilai perjuangan Kartini terasa nyata, karena keberanian untuk maju sering kali lahir dari proses yang sederhana tetapi konsisten.
Makna Hari Kartini bagi mahasiswa juga terletak pada tanggung jawab untuk melanjutkan semangat tersebut dalam bentuk yang sesuai dengan zaman. Jika dahulu Kartini berjuang melalui tulisan dan gagasan, maka hari ini mahasiswa dapat melanjutkannya melalui karya, prestasi, inovasi, empati sosial, serta kontribusi nyata di tengah masyarakat. Semangat Kartini tidak selalu harus hadir dalam hal besar. Kadang ia muncul dalam keberanian bertanya di kelas, dalam keputusan untuk tetap belajar saat merasa tertinggal, dalam tekad untuk memimpin sebuah tim, atau dalam kemauan untuk tetap percaya pada diri sendiri.
Kartini pun tidak pernah tahu sejauh apa perjuangannya akan membawa perubahan. Ia tidak tahu apakah tulisannya akan dibaca luas dan dikenang lintas generasi. Namun satu hal yang pasti, ia memilih untuk memulai. Dan mungkin, itu yang paling penting. Sebab perubahan tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi dari keberanian untuk berjalan, sedikit demi sedikit, tanpa menyerah.
Selamat Hari Kartini, 21 April.
Untuk setiap perempuan yang sedang berproses, yang sedang belajar percaya pada dirinya sendiri, yang sedang mencoba menjadi lebih berani dari hari kemarin, tidak harus sempurna, yang penting tetap berjalan. Dan untuk setiap mahasiswa Telkom University Kampus Surabaya, semoga semangat Kartini terus hidup dalam cara kita belajar, berkarya, dan memberi arti.
Penulis: Devina Arulyantani / Editor: Fujiyama | Foto: Dokumentasi Public Relations
