Di tengah perjalanan kuliah, ada satu fase yang cukup sering dirasakan mahasiswa, tapi jarang benar-benar dibahas, yaitu rasa “stuck”. Secara aktivitas, semuanya masih berjalan, kuliah tetap diikuti, tugas tetap dikerjakan. Tetapi di sisi lain, muncul perasaan seperti jalan di tempat. Nggak maju, tapi juga nggak berhenti.
Kondisi ini sering bikin bingung. “Sebenarnya lagi capek biasa, atau memang mulai kehilangan arah?“
Kalau dilihat dari keseharian mahasiswa, rasa “stuck” ini bisa muncul karena beberapa hal. Salah satunya adalah kelelahan. Jadwal yang padat, tugas yang terus datang, ditambah kegiatan lain seperti organisasi atau kepanitiaan, bisa membuat energi terkuras tanpa terasa. Dalam kondisi ini, wajar kalau motivasi menurun dan semuanya terasa berat.
Namun, ada juga kondisi di mana rasa “stuck” bukan sekadar capek. Beberapa mahasiswa mulai mempertanyakan kembali apa yang sedang dijalani. Mulai dari “kenapa ambil jurusan ini?”, “sebenarnya mau ke mana?”, sampai “apa yang sudah dilakukan selama ini sudah cukup atau belum?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini biasanya muncul ketika mulai merasa tidak memiliki arah yang jelas.
Di sisi lain, pengaruh lingkungan juga cukup besar. Melihat teman-teman yang terlihat lebih aktif, sudah punya pengalaman magang, atau terlihat lebih “siap” sering kali memicu perasaan tertinggal. Tanpa disadari, hal ini bisa membuat mahasiswa semakin merasa stuck, bukan karena kurang kemampuan, tapi karena terlalu sering membandingkan diri.
Lalu, bagaimana cara membedakan antara capek dan kehilangan arah?
Kalau yang dirasakan adalah capek, biasanya masih ada keinginan untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasa setelah istirahat. Perasaan jenuh muncul karena kelelahan, bukan karena kehilangan tujuan. Dalam kondisi ini, yang dibutuhkan bukan perubahan besar, tapi waktu untuk rehat dan mengatur ulang ritme.
Sebaliknya, jika yang dirasakan adalah kehilangan arah, biasanya muncul kebingungan yang lebih dalam. Aktivitas yang dijalani terasa monoton dan kurang bermakna, bahkan setelah beristirahat. Di titik ini, mahasiswa mungkin perlu mulai mengevaluasi kembali apa yang sedang dijalani dan mencari kemungkinan baru.
Beberapa langkah sederhana bisa dicoba saat mulai merasa stuck:
- Memberi jeda sejenak
- Mulai dari hal kecil
- Mengurangi kebiasaan membandingkan diri
- Mencari perspektif lain
- Mencoba hal baru
Pada akhirnya, merasa “stuck” di tengah kuliah bukan sesuatu yang aneh. Fase ini bisa jadi bagian dari proses memahami diri sendiri. Entah itu karena capek atau memang sedang mencari arah, keduanya sama-sama wajar terjadi.
Yang penting, jangan berhenti di situ. Pelan-pelan, tetap jalan. Karena sering kali, arah itu baru terlihat setelah dijalani.
Penulis: Nazhifa | Editor: Fujiyama / Gambar: Pexels